Salah satu raja yang paling terkenal di Tanah Sunda adalah Linggabuana/ Maharaja/Prabu Wangi.
beliau resmi dilantik menggantikan ayahnya yaitu Ragamulya (Aki Kolot) pada 14 bagian terang bulan Palguna tahun 1272 saka bertepatan dengan tanggal 22 Februari tahun 1350 masehi. Beliau menjabat selama 7 tahun sebagai adipati dibawah pemerintahan kakeknya yakni Sang Ajiguna. Kemudian, beliau diangkat sebagai Mahamantri sekaligus putera mahkota dibawah pemerintahan Ragamulya ayahnya.
Beliau dikenal lewat cerita turun temurun sebagai tokoh utama dalam Perang Bubat dan gugur dalam perang tersebut. Hingga kini beliau dijadikan panutan atas keberanian mempertahankan kehormatan dan mengajarkan orang Sunda membela haknya sampai mati. Karena hal itu beliau dianggap sebagai kesatria oleh orang Sunda dan namanya tetap harum maka beliau disebut Prabu Wangi.
Linggabuana juga sering disebut Maharaja karena wilayah kekuasaannya di tatar Sunda sama dengan kekuasaan Purnawarman.dalam Pustaka Nagarakertabhumi parwa 1 sarga 4 disebut Maharaja Linggabhuwanawisesa.
Prabu Wangi Linggabuanawisesa Maharaja mempunyai 4 orang anak dari isterinya Dewi Laralinsing yang pertama yakni Citraresmi Dyah pithalok (ikut gugur dalam bela pati di palataran Bubat) nanknya yang kedua dan ketiga meninggal dalam usia 1 tahun dan anaknya yang bungsu bernama Niskala Wastu Kancana.
Linggabuana dan anaknya Citraresmi dikisahkan dalam fragmen carita Parahyangan. Walaupun tidak tertalu banyak namun telah menunjukan bahwa beliau merupakan tokoh utama dalam carita tersebut.
- Boga anak, prebu Maharaja, lawasnya jadi ratu 7 taun, lantaran keuna ku musibat, kabawa ku cilaka anak na, ngaran tohaan, menta gede pameulina.
- Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda, heug wae perang di Majapahit.
Hal yang bisa generasi orang sunda sekarang dari seorang raja di Tatar Sunda bernama Prabu Wangi Linggabhuwanawisesa Maharaja adalah :
- Sikap kepahlawanan beliau sebagai kepala negara atau raja yang tak mau dijajah dan dianggap sebagai negara bawahan walaupun harus mengorbankan nyawanya.
- Sikap seorang kepala keluarga atau ayah yang menginginkan anaknya bahagia dengan calon pilihanya walaupun harus mengesampingkan ego pribadi dengan mengantarkan anaknya untuk menikah di Majapahit.
- Gugurnya beliau mengingatkan kita bahwasanya orang Sunda itu bukan sekedar bangsa yang lemah dan sumuhun dawuh pada keinginan penguasa. tidak takut berbuat benar meski harus menentang kekuatan yang lebih besar.